Staf exim di sebuah Kawasan Berikat menerima invoice dan packing list dari pemasok luar negeri dalam bentuk PDF, berisi 150 pos barang. Sebelum BC 2.3 bisa diajukan, setiap pos itu harus diketik ulang: uraian, jumlah, satuan, harga. Pekerjaan seperti inilah yang paling masuk akal dibantu AI.
Kenapa mengetik ulang itu mahal
Masalahnya bukan hanya waktu. Satu angka yang salah ketik di dokumen BC punya akibat:
- Dokumen ditolak CEISA 4.0 dan harus diperbaiki.
- Barang tertahan lebih lama di pelabuhan, dengan biaya yang ikut berjalan.
- Dokumen dan stok di IT Inventory tidak cocok, lalu menjadi temuan saat audit.
Semakin banyak item per dokumen dan semakin sering impor, semakin besar risikonya.
Apa yang dikerjakan AI
AI membaca dokumen pendukung, termasuk PDF dan hasil scan, lalu menyiapkan draf dokumen BC dengan data barang sudah terisi. Staf tidak lagi mengetik dari nol; mereka memeriksa, melengkapi yang kurang, dan menyetujui.
Ini paling terasa untuk dokumen yang datanya datang dari pihak luar, seperti BC 2.3 untuk impor bahan baku. Untuk dokumen yang datanya sudah ada di sistem perusahaan, yang dibutuhkan bukan AI, melainkan integrasi dengan ERP dan CEISA 4.0 supaya data tidak diketik ulang. Fungsi tiap kode dokumen dijelaskan di panduan jenis dokumen BC.
Kenapa hasilnya tetap harus diperiksa
Dokumen pabean adalah pernyataan perusahaan kepada Bea Cukai. Kalau ada yang salah, tanggung jawabnya ada di perusahaan, bukan di perangkat lunak. Karena itu AI sebaiknya diposisikan sebagai penyusun draf, bukan pengambil keputusan, terutama untuk hal yang memengaruhi pungutan seperti nilai pabean dan pos tarif.
AI juga hanya sebaik dokumen yang diterimanya. PDF yang sulit dibaca manusia akan menghasilkan draf yang perlu lebih banyak koreksi.
Cara menilai fitur AI sebelum membeli
Pada Agustus 2025, laporan Project NANDA dari MIT (“The GenAI Divide”) menyebut sekitar 95% proyek percontohan AI generatif di perusahaan belum menunjukkan dampak terukur pada laba rugi (Forbes, 26 Agustus 2025). Dari pengalaman kami, penyebab yang sering muncul adalah janji besar saat demo yang tidak diuji dengan data sehari-hari klien.
Jadi sebelum memutuskan:
- Uji dengan dokumen Anda sendiri. Pakai invoice dan packing list dari pemasok utama, termasuk yang formatnya paling berantakan.
- Hitung koreksinya. Berapa field yang masih harus dibetulkan per dokumen? Itu ukuran yang lebih jujur daripada klaim akurasi.
- Pastikan alurnya utuh. Draf yang bagus tidak banyak berguna kalau setelah itu data harus dipindahkan lagi secara manual ke CEISA 4.0 dan IT Inventory.

DocFast adalah aplikasi IT Inventory dari Kausa yang dipadukan dengan fungsi penyusunan dokumen kepabeanan dan terhubung host-to-host dengan CEISA 4.0. Untuk impor, Anda cukup mengunggah invoice, packing list, dan bill of lading: AI DocFast membacanya dan menyiapkan draf BC 2.3 atau BC 2.0 dengan data barang terisi. Tim Anda tetap yang memeriksa dan menyetujui, lalu DocFast mengirimkannya ke CEISA 4.0 dan mencatat nomor pendaftarannya. Kartu stok bergerak begitu dokumen diterima, sehingga stok dan dokumen tetap cocok saat audit.
Ingin melihat hasilnya dengan dokumen Anda sendiri? Minta uji coba via WhatsApp · Lihat DocFast →



